Etika Komunikasi Terhadap Anak Menurut Al-Qur’an

Al-Quran merupakan panduan hidup yang mengatur segala hal bahkan etika dalam komunikasi. Etika dalam komunikasi bukan hanya diperlukan untuk berbicara kepada orang dewasa, tapi terhadap anak-anak pun, kita harus menggunakan etika. Agar apa? Tentu saja agar generasi kita kelak tumbuh menjadi pribadi yang selalu mengingat Allah dan berada di jalan yang benar.

Dari obrolan ringan sebuah Parents Discuss Forum di Sekolah Balita Yayasan Tunas Harapan Ilahi Tangerang, Buku Najma paparkan kembali etika komunikasi terhadap anak menurut Alquran dan Hadis.

1. Qaulan Sadida

وَلْيَخْشَ ٱلَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا۟ مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةًۭ ضِعَٰفًا خَافُوا۟ عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْيَقُولُوا۟ قَوْلًۭا سَدِيدًا

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.(An-Nisa ayat 9)

Qaulan sadida artinya berkata yang benar. Sebaiknya orangtua selalu bicara jujur atau apa adanya terhadap anak. Bahkan kita harus memulai ini sejak dini. jangan ada seperti contoh kita menyuruh anak untuk menghabiskan makan karena kalau tidak dihabiskan makanannya akan dimakan oleh badut atau ondel-ondel. Hal ini termasuk bicara yang tidak qaulan sadida.

Cobalah bicara pada anak untuk menghabiskan makan karena makan memang merupakan kebutuhannya. Berilah pengertian kepada anak bahwa bila dia tidak makan, maka akan sakit. dan masih banyak contoh lainnya dalam kehidupan sehari-hari yang menunjukkan betapa banyaknya sikap orang tua yang bicara tidak benar pada anak-anak mereka.

2. Qaulan Baligha

Qaulan Baligha artinya perkataan yang sampai. Tidak bertele-tele. Katakanlah hak yang melekat pada sanubari anak. Orang tua juga boleh mengungkapkan bagaimana perasaannya terhadap anak.

Sesekali boleh bilang, “Bunda sedih, Kakak tidak mau bekerja sama “

Namun, juga diimbangi dengan perkataan sejenis, “Bunda senang sekali Kakak dan adik bermain bersama.”

Bila Ayah Bunda ingin pergi meninggalkan adik, katakan saja tujuannya. Tidak perlu berbelit-belit karena kelak adik akan meniru. Katakanlah perkataan yang dapat dimengerti lawan bicara. Sesuai kadar umur juga lingkungannya. Coba bayangkan bila ada seorang dosen, lalu berbicara dengan warga sekitar menggunakan gaya bahasa tinggi. Pasti tak akan sampai maksudnya.

Perihal Qaulan Baliga ini juga ada dalam firman Allah SWT. Surat An-Nisa ayat 63.

3. Qaulan Ma’rufa

Ada dalam surat an-Nisa ayat 5 dan 8 juga surat Al Baqarah ayat 235.

Qaulan Ma’rufa artinya berbicara baik. Bicara hal hal baik seperti yang sudah biasa dilakukan masyarakat. Bicara hal yang pantas bagi yang diajak bicara maupun pembicara.

Tak ada baiknya pula bila orang tua membicarakan hal-hal yang tidak baik bagi anak. Perdengarkan pada mereka kebaikan sejak dini.

4. Qaulan Karima

Ada dalam surat Al-Isra ayat 23. Jika karima dipakai untuk menyifati maka memiliki arti mulia. Qaulan karima artinya bicara yang mulia, terpuji, dan penuh tata krama.

Anak sangat layak kita hargai dan hormati pula bicaranya. Berikan kesempatan untuk bicara pada mereka.

Jangan menyumpahi anak dengan kata-kata tak layak. Ucapan adalah sebagian dari do’a. Apalagi ucapan yang keluar dari Ayah Bundanya sendiri.

5. Qaulan Layyina

Dalam surat Taha ayat 44 yang berisi tentang strategi Nabi Musa dan Harun dalam mendakwahi Fir’aun dengan sopan dan lemah lembut. Bicara lemah lembut agar tidak menyakitkan bagi yang mendengar.

Tentu saja poin ini sangat penting tanpa dijelaskan lagi. Akan lebih baik bila orang tua bicara lemah lembut pada anak-anaknya. Apa yang orang tua tanam hari ini maka akan disemai kemudian hari.

6. Qaulan Maysura

Surat Al-Isra ayat 28 menceritakan tentang peristiwa ketika orang-orang dari Muzainah minta kendaraan untuk jihad kepada Rasulullah.

Al-Sabuni dalam Safwah al-Tafasir menjelaskan qaulan maisura  dengan perkataan yang halus, mudah dicerna, disertai dengan janji yang “indah” untuk mereka. Sedangkan Ibnu Kasir dalam kitabnya menjelaskan bahwa qaulan maisura adalah ucapan yang pantas, serta janji yang menyenangkan yang memberi harapan positif bagi pihak yang diberi janji.

Nah, Qaulan Maysura ini perlu kita aplikasikan pula pada anak-anak kita kelak.

Oke, itu tadi semua pemaparan tentang Etika Komunikasi Terhadap Anak Menurut Al-Qur’an. Semoga kita semua bisa aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama pada anak-anak kita yang akan bertumbuh menjadi generasi penerus dakwah Ayah Bunda. Salam Buku Najma.

One Reply on “Etika Komunikasi Terhadap Anak Menurut Al-Qur’an”

Tinggalkan Balasan